Wednesday, 18 June 2008

TAK ADA KATA MENYERAH

Dalam kehidupan yang sangat kejam ini, TUHAN masih memberikan kami ANUGERAH yang sangat besar, yaitu ....... MAMA !!!

Mama ku sangat penyabar, penyayang, dan tak pernah mengeluh, serta tak ada kata menyerah.

Sejak perekonomian keluarga hancur pada tahun 1998, mama lah yang menjadi “Tulang Punggung” keluarga kamii.

Sedangkan papa mengalami “SHOCK” yang sangat hebat karena kebangkrutan kami disertai dengan HUTANG yang banyak,.

KRISIS MONETER tahun 1998 membuat semua usaha papa hancur.

Hampir tak ada sisa nya.

Toko yang menjadi aset kami yang tertinggal Disita BANK.

Saat itu kami tak tau lagi harus bagaimana.

Jangan kan untuk memulai bangkit dengan membuka usaha yang baru, untuk makan hari ini saja kami harus berhutang sana sini.

Saat itu sepertinya kebahagiaan keluarga kami terenggut.

Hubungan papa dan mama memburuk, hampir setiap hari aku dan adik2 mendengar teriakan, caci maki, dan penyesalan dari orang tua ku.

Hati kami sangat hancur, seakan disayat sembilu yang tajam.

Saat itu, mama ku mencoba bangkit dari keterpurukan.

Hampir segala macam usaha yang dikukan.

Karena secara skill, papa dan mama ku hanya tamatan SMU yang sangat jauh dari kriteria penerimaan pegawai, baik negri maupun swasta.

Semua usaha telah dilakoni oleh mama ku, dan tak ada kata menyerah dan kata2 putus asa yang keluar dari mulut mama ku.

Hujan caci maki dari dari orang 2 yang tak berkeprimanisuaan hampir tak pernah berhenti ku dengar.

Tetapi semangat perjuangan yang dimiliki mama jauh lebih besar ketimbang harus memikirkan perasaan kala itu.

Tak pernah di bayang kan batapa besar nya pengorbanan seorang mama, dengan susah payah mama mengndung kami, dengan berbagai suka duka nya, dan dikala Tuhan menentukan waktunya, siap tidak siap mama harus mengorbankan nyawa nya demi melahirkan kami kedunia ini. Setelah kami lahir kedunia, dengan berbagai cara mama membesarkan kami, dan sekarang seakan beban mama bertambah, mama harus menjadi tulang punggung keluarga.

10 Tahun berlalu, seakan masa lalu yang suram tak pernah berhenti mengikuti jejak langkah kami.

Sampai sekarang perekonomian kami tak bisa bangkit.

Sampai sekarang papa juga enggan pergi bekerja.

Bukan karena papa malas, tetapi sampai sekarang papa tak bisa berbuat banyak, sepertinya kegagalan demi kegagalan yang terjadi, membuat papa lemah mental untuk berhadapan dengan orang2.

Memang terkesan kekanak-kanakan, tetap itulah yang teradi.

Aku tak bisa mensesali yang terjadi dan tak bisa menyalahkan TUHAn atas semua yang kami alami.

Karena sampai sekarang kami tak punya tempat untuk mengadu, bahkan sejak kami jatuh miskin, semau sanak saudara seakan enggan mendekat, dan semakin hari mereka semakin jauh.

Tak jarang kami juga mendapat caci maki dari saudara2 kami sendiri.

Disetiap doa yang ku panjatkan, aku tak pernah lupa mendoakan mama tersayang, agar mama mendapatkan balasan yang setimpal atas semua yang beliau lakukan selama ini.

Mama....

Allah akan selalu menyertai mu..

Dimana pun engkau berada

Dan apapun yang engkau lakukan

Percaya lah...

Tangan ini yang akan membalas jasa mu

Selama ini

Mama....

Dan papa,...

Maaf kan aku

Aku yang berdosa

Selalu membangkang

Padamu papa.....

Aku selalu berharap,

Semoga kita semua

Selalu di satukan

Dimana pun kita berada,...

AMIN

doa6.jpg

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

No comments: